Dilarang Ngutang diwarung kami

Dilarang Ngutang diwarung kami

DILARANG BERHUTANG DI WARUNG KAMI

Negeri kita indonesia kini telah berusia 72 tahun setelah merdeka, soal ngutang atau berhutang dirumah makan itu sudah menjadi kebiasaan, biasalah gitu. Rumah makan atau warung yang keberadaannya didekat lokasi perkantoran atau pabrik, tidak sedikit karyawan yang kehabisan uang untuk membayar kreditan atau angsuran-angsuran, seringkali diakhir bulan belum menerima gaji atau bayaran, nah ilmu ngutang ini bisa jadi bahan praktek untuk hal tersebut.

 

Bahasa yang digunakan seperti ini..
“mbak, minta tolong dicatat kembali yak…!” 
” kulo sampun pinten buk ? (Saya dah berapa bu?) nyuwun tulung sekalian meniko nggih (Sekalian yang ini ya..) Insya Allah mengkih awal bulan kulo bayar sedanten( Insya Allah awal bulan langsung saya bayar semua..”
“7 (tujuh) hari lagi ya mba, sekalian dimasukkan yang makan hari ini yaa mba “

Semua bahasanya halus untuk ngutang, tujuanya mengasih harapan ke ibu warung diawal bulan nanti bisa memanen dari hutang-hutang tersebut yang masih tertunda.

 

Nah ini Celakanya, tidak semua yang menghutang tersebut perkataanya bisa ditepati atau merealisasikan omongannya. Biasanya karyawan yang masih punya tanggungan cicilan lain, Awal bulan duit gajian sudah berkurang untuk bayar cicilan tersebut, ditambah lagi  dengan kebutuhan kebutuhan lain yang harus dipenuhi atau bisa saja malahan gelap mata pura-pura lupa dan membuat berbagai alasan untuk cari selamat dari bayar hutang tersebut, ” ahhh…. ibu yang punya warung masih masih banyak uang kok! Jadi kayaknya dia belum butuh-butuh uang… nanti ahh bayarnya belakangan aja!” yang bikin masalah adalah si penghutang ternyata keluar kerja atau pindah tempat kerja lain tanpa permisi, bisa juga sengaja menghilang untuk menghutang ke warung lainnya dengan cara yang sama untuk memperpanjang nafas dan juga cari selamat.

Masalah seperti ini yang membuat arus kas (cashflow) usaha warung makan jadi terhambat! Karena Bahan baku setiap hari harus dibeli atau restok, sedangkan pendapatan tersendat karena piutang yang ditanggung cukup banyak sedangkan modalnya ngapas saja!
nggak lancar mengalirnya. Maksud hati ingin menolong, malahan membuat kosong

Sampai sampai beredar sebuah foto unik di sosmed, seorang pemilik warung menempelkan kertas di depan warungnya dengan tulisan : 


HIROSHIMA HANCUR KARENA BOM! WARUNG HANCUR KARENA BON!

Hehe… sindiran telak yang membuat pasukan pengebon balik kanan karena nggak berani datang dan ngutang lagi.

Ada juga di sebuah rumah makan cukup besar yang jadi singgahan wisatawan di jalur arah Pantai Parangtriris ke Jogjakarta menuliskan dengan huruf besar-besar di atas kasirnya:

 
MAAF, PEMBAYARAN CASH/TUNAI. TIDAK MENERIMA KARTU KREDIT

jangan ngutang diwarung kami

Padahal rumah makan itu selalu penuh dengan mobil mombil yang mengangkut para turis dan wisatawan, nah kepala wisatawan (Tour Leader) akan membawa uang tunai yang cukup banyak untuk membayar biaya konsumsi makan rombongannya. 
pernah suatu kali waktu saya kesana, iseng iseng saya bertanya kepada kasirnya ketika mau membayar :
“mas, bisa ngga ya saya bayarnya pakai kartu debet? Ini nggak pakai kartu utang, lanjut saya”
“maaf, nggak bisa pak, kami hanya menerima pembayaran tunai. Jika mau mengambil uang tunai, silahkan bisa ke ATM dulu seberang sana..”

Show me the money! “endi duitmu.. mbayaro” bahasa Jawanya.
No gesek..
No uwak uwek
No cenal cenul
No diskan diskon
No hutang

Baca Juga tentang Doa Tak Tertolak disini 

Yang biasanya makan dengan membayar mengandalkan kartu kredit hutangannya akan galau di tempat ini. Padahal itu kartu sakti! Di semua restoran di mall yang mahal kartu sakti ini diterima, bahkan dapat diskon pengundang selera.. aah disini kartu itu dilepeh saja.. bye bye! Ora payu kartumu! (ngga laku kartumu)

Makan gesek kartu kredit, padahal makanan akan ditelan diperut kita.
Tapi bayarnya belakangan! Dapat dicicil pula, yang penting bisa selfi dan upload foto sebagai horang kayah yang makan mewah dimana-mana.. demi dapat like dan komentar kagum dari kawan-kawannya!

Makan aja ngutang… tuntutan gaya hidup yang menyesatkan!
Ketika akhir bulan tagihan datang, berbagai makanan belum terbayarkan padahal sudah jadi kotoran.. nggak punya uang bayar 10% minimal, terjerat utang bunga berbunga gak berkesudahan! Mau kabur? nggak ada bedanya dengan karyawan yang ngutang di warung sebelah hingga membuat “Hiroshima hancur leburrr!” hehehe

Entah sudah berapa kali di seminar “Kembali Ke Titik Nol” peserta menangis sesenggukan saat memotong kartu kreditnya di atas panggung.

Ada yang utang kartu kreditnya 600 juta, 300 juta, 200 juta… demi gaya hidup saja!
Ada yang mengeluarkan dompet khusus, kartu utang berderet-deret, berwarna-warni menyesakkan dada…

Kapan mau berhenti kawan?
Hidup merdeka dari riba…
Hati tenang tanpa utang…
Pikiran bebas semua lunass..!!

Kapan?

 

Ini sebuah artikel yang ditulis oleh mas Saptuari Sugiharto,semoga memberikan manfaat.